x

JANGAN KEMBALI KE MASA LALU, TAPI KEMBALILAH KE AKAR”

waktu baca 5 menit
Rabu, 19 Agu 2026 07:47 63 Muhammad Pijay

Oleh ; Muslailati S.Pd
Catatan Guru Mus dari sebuah ruang pelatihan literasi
Siang itu, saya berdiri di depan guru-guru dan kepala sekolah.
Di hadapan saya bukan sekadar peserta pelatihan. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah kecil yang sedang belajar mengenal huruf, memahami angka, membaca dunia, dan perlahan menemukan masa depannya.
Tema kami hari itu sederhana, tetapi sebenarnya sangat besar:
Penguatan literasi melalui Kelas Literasi Kreatif.
Saya baru saja menjelaskan bahwa literasi tidak cukup hanya dengan membuat anak membaca. Literasi harus menjadi kebiasaan, berkembang menjadi kemampuan, lalu hidup di dalam pembelajaran.
Tiba-tiba seorang kepala sekolah mengangkat tangan.

Beliau adalah Guru Yusuf, kepala sekolah pada jenjang MI. Usianya sudah tidak muda lagi. Beliau bercerita, dua tahun lagi akan memasuki masa pensiun.“Guru Mus,” katanya, “boleh saya bertanya?” tanyanya.
“Tentu, Guru Yusuf.” Jawabku sopan sambil tersenyum.
Beliau tersenyum kecil.
“Kalau saya melihat pendidikan sekarang, rasanya kita semakin banyak model. Kurikulum berganti, pendekatan berganti, istilah pembelajaran semakin banyak. Ada ini, ada itu.”
Ruangan mulai hening.
Beliau melanjutkan,
“Dulu, waktu kami sekolah, anak SD itu setiap hari ya membaca. Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi. Berhitung. Menulis. Diulang-ulang. Sederhana sekali.”
Beliau berhenti sebentar.
“Dan akhirnya tamat SD, ya bisa membaca dan berhitung.”
Beberapa peserta mengangguk.
Lalu beliau bertanya,
“Mengapa sekarang kita sudah menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran, tetapi masih ada anak yang tamat SD atau MI yang kemampuan membaca dan berhitungnya belum kuat? Apakah kita perlu kembali ke pendidikan zaman dulu?”
Saya terdiam beberapa detik.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tetapi karena pertanyaan itu terlalu penting untuk dijawab dengan tergesa-gesa.

Saya kemudian tersenyum.
“Guru Yusuf, mungkin pertanyaannya bukan apakah kita harus kembali ke masa lalu.”
Beliau menatap saya.
“Lalu?”
Saya menjawab,
“Mungkin kita perlu kembali kepada apa yang dahulu membuat anak-anak belajar dengan sungguh-sungguh.”
Ruangan kembali hening.
Saya melanjutkan,
“Bisa jadi yang membuat anak dahulu kuat bukan semata-mata buku Ini Budi-nya.”
“Lalu apa, Guru?”
“Mungkin karena mereka membaca setiap hari. Berlatih setiap hari. Menulis setiap hari. Berhitung setiap hari. Ada pengulangan. Ada ketekunan. Ada guru yang terus mendampingi. Ada kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.”
Guru Yusuf mengangguk perlahan.

Saya kemudian bertanya balik,
“Jadi, GuruYusuf, apakah yang perlu kita kembalikan adalah bukunya?”
Beliau tersenyum.
Saya melanjutkan,
“Atau budayanya?”
Kali ini beberapa guru tersenyum dan mengangguk.
Saya pun berkata,
“Kita tidak harus kembali ke masa lalu. Tetapi kita boleh mengambil kebaikan dari masa lalu.”
Sebab pendidikan hari ini memang tidak bisa sepenuhnya sama dengan pendidikan puluhan tahun lalu.
Anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda.
Mereka menghadapi banjir informasi, teknologi digital, media sosial, perubahan dunia kerja, persoalan lingkungan, dan tantangan kehidupan yang jauh lebih kompleks.

Karena itu, anak tidak cukup hanya mampu mengeja.
Mereka perlu memahami apa yang dibaca.
Tidak cukup hanya mampu menghitung.
Mereka perlu mampu menggunakan angka untuk memecahkan persoalan kehidupan.
Tidak cukup hanya mampu menghafal.
Mereka perlu mampu berpikir, bertanya, menalar, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:
Kemampuan yang tinggi membutuhkan fondasi yang kuat.
Bagaimana anak akan mampu memahami teks yang panjang jika membaca sederhana saja masih terbata-bata?
Bagaimana anak akan mampu memecahkan masalah kompleks jika konsep bilangan dasar belum dikuasai?
Bagaimana anak akan mampu berpikir kritis jika membaca dan memahami informasi saja masih menjadi kesulitan?
Maka mungkin persoalan pendidikan kita bukan karena terlalu banyak kurikulum.

Bukan pula karena terlalu banyak pendekatan.
Barangkali kita perlu bertanya lebih dalam:
Apakah fondasi belajar anak sudah benar-benar kita kuatkan?
Apakah anak membaca setiap hari?
Apakah mereka memahami apa yang dibaca?
Apakah mereka diberi kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan gagasan?
Apakah mereka menulis?
Apakah mereka berlatih berhitung?
Apakah guru memberikan umpan balik?
Apakah sekolah menciptakan lingkungan yang membuat anak ingin membaca?

Dan yang paling penting:
Apakah literasi benar-benar menjadi budaya sekolah, atau hanya menjadi kegiatan yang muncul ketika ada program?
Saya kemudian kembali kepada materi pelatihan.
Saya menunjukkan kepada peserta beberapa kartu.
Satu kartu berbunyi:
“Siswa membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran.”
Saya bertanya,
“Ini apa?”
“Pembiasaan!” jawab peserta hampir bersamaan.

Saya mengambil kartu berikutnya.
“Siswa membaca sebuah cerita, kemudian membuat peta pikiran dari informasi yang diperoleh.”
“Pengembangan!”
Saya tersenyum.
Lalu saya mengambil kartu terakhir.
“Siswa membaca teks tentang tumbuhan, mengamati tumbuhan di lingkungan sekolah, mencatat hasil pengamatan, kemudian membuat kesimpulan.”
“Pembelajaran!”

Saat itulah saya mengatakan kepada mereka:
“Mungkin yang kita perlukan bukan memilih pendidikan lama atau pendidikan baru. Kita perlu menggabungkan kekuatan keduanya.”
Ambillah kebiasaan baik dari masa lalu.
Gunakan pendekatan yang relevan dengan zaman sekarang.
Lalu kuatkan semuanya dengan guru yang konsisten, sekolah yang mendukung, dan budaya belajar yang nyata.
Sebab anak-anak kita tidak membutuhkan pendidikan yang sekadar terlihat modern.

Mereka membutuhkan pendidikan yang benar-benar membuat mereka belajar.
Dan mungkin, setelah puluhan tahun kita berganti berbagai istilah dan pendekatan, ada satu hal sederhana yang tetap harus kita jaga:
Anak harus membaca.
Anak harus menulis.
Anak harus berhitung.
Anak harus berpikir.
Anak harus bertanya.
Anak harus mencoba.
Anak harus berkarya.

Karena itu, saya lebih suka mengatakan:
Kita tidak perlu kembali ke masa lalu.
Kita perlu kembali ke akar.
Akar yang kuat akan membuat pohon pendidikan tumbuh lebih kokoh.
Akar lama, cara baru.
Fondasi kuat, pembelajaran bermakna.
Tradisi baik tetap dijaga, inovasi terus dikembangkan.
Dan mungkin, itulah jalan tengah yang selama ini kita cari.

Guru Mus
Narasumber Penguatan Literasi melalui Kelas Literasi Kreatif

Editor : CM Cek Mad

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x