
BANDA ACEH — Sikatkasus.com | Kabar membanggakan datang dari keluarga besar pendidikan inklusif Kabupaten Pidie Jaya. Muslailati, S.Pd., Ketua Forum Pendidikan Madrasah Inklusif (FPMI) Kabupaten Pidie Jaya, menerima Anugerah Apresiasi sebagai Ketua FPMI Dedikatif dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Madrasah Inklusif Provinsi Aceh Tahun 2026.

Penghargaan itu diserahkan dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Banda Aceh, Rabu, 23 September 2026. Anugerah tersebut menjadi pengakuan atas kepedulian, kerja keras, dan kontribusi Muslailati dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, setara, dan ramah bagi semua anak.
Bagi Muslailati, penghargaan ini bukan sekadar piagam atau simbol seremonial. Ia memaknainya sebagai peneguhan bahwa perjuangan pendidikan inklusif di madrasah adalah kerja bersama yang melibatkan guru, kepala madrasah, orang tua, dan seluruh pihak yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan terbaik.
Inklusi Bukan Sekadar Kehadiran, tetapi Penerimaan

Sebagai Ketua FPMI Kabupaten Pidie Jaya, Muslailati selama ini tidak hanya menjalankan tugas organisasi. Ia aktif membangun ruang belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat pemahaman madrasah mengenai pendidikan inklusif. Menurutnya, inklusi bukan hanya soal keberadaan peserta didik penyandang disabilitas di ruang kelas.
“Inklusi adalah tentang bagaimana setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dihargai, dan diterima sesuai dengan kebutuhan dan potensinya,” tegasnya.
Semangat itu diwujudkan melalui berbagai kegiatan FPMI Kabupaten Pidie Jaya. Mulai dari berbagi informasi dan pengalaman kepada guru, membantu madrasah memahami kebutuhan peserta didik, mengembangkan instrumen pendukung layanan inklusif, hingga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan bermutu dan manusiawi.
Langkah-langkah tersebut dinilai tidak selalu terlihat di panggung besar. Namun, justru dari kerja-kerja kecil itu, kesadaran dan kesiapan madrasah untuk menghadirkan layanan inklusif terus tumbuh.
Penghargaan untuk Perjuangan Bersama
Muslailati menegaskan, penghargaan yang ia terima bukanlah miliknya seorang diri. Ia menyebutnya sebagai apresiasi bagi perjuangan bersama para guru, madrasah, orang tua, dan semua pihak yang terus mendukung pendidikan inklusif.
“Penghargaan ini bukan tentang saya seorang. Ini adalah penghargaan untuk perjuangan bersama, untuk para guru, madrasah, orang tua, dan semua pihak yang terus percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa terkecuali,” ujarnya.
Ia berharap semangat pendidikan inklusif di Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya, terus berkembang. Semakin banyak madrasah diharapkan memiliki kepedulian dan kesiapan dalam memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik, apa pun kondisi dan kebutuhannya.
Menurutnya, perjalanan menuju madrasah yang benar-benar inklusif memang membutuhkan proses. Dibutuhkan perubahan cara pandang, kesabaran, kolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar.
“Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan semuanya dalam satu hari. Tetapi jika setiap orang mau mengambil satu langkah kecil untuk menghadirkan pendidikan yang lebih ramah dan setara, maka langkah-langkah kecil itu akan menjadi perubahan besar bagi anak-anak kita,” ungkapnya.
Dedikasi yang Berangkat dari Kepedulian
Anugerah Ketua FPMI Dedikatif yang diterima Muslailati menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam memperjuangkan pendidikan inklusif. Di balik penghargaan itu, ada waktu, tenaga, pembelajaran, dan pendampingan yang tidak sebentar. Ada pula kepedulian terhadap peserta didik yang membutuhkan layanan pendidikan sesuai kebutuhannya.
Penghargaan yang diterima pada 23 September 2026 tersebut sekaligus menjadi catatan penting dalam perjalanan penguatan pendidikan inklusif di Kabupaten Pidie Jaya. Dari Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, sebuah pesan kembali diteguhkan: pendidikan adalah hak semua anak, dan tidak seorang pun boleh merasa berbeda hanya karena memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.
Bagi Muslailati, pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung. Kadang ia hadir dalam bentuk mendengarkan, mendampingi, berbagi, menjawab pertanyaan seorang guru, membantu sebuah madrasah, atau sekadar meyakinkan seorang anak bahwa dirinya juga berharga dan memiliki masa depan.
Dan hari ini, sebuah penghargaan menjadi saksi bahwa langkah-langkah kecil itu telah dilihat, dihargai, dan menjadi bagian dari gerakan pendidikan inklusif di Aceh.
Pewarta: CM Cek Mad

Tidak ada komentar