
Pidie Jaya, [26 Agustus 2026] — Sikatkasus.com | Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA, S.Sos, ME, terus menggencarkan langkah-langkah konkret untuk memulihkan kehidupan masyarakat pasca bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa waktu lalu. Dalam serangkaian agenda strategis di Aula Dinas Pertanahan Aceh, Rabu (26/8), Bupati menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya berhenti pada tahap tanggap darurat, tetapi harus menyentuh aspek hunian layak, kesiapsiagaan, dan kebangkitan ekonomi warga.

Perjuangan Lahan Huntap: 12,46 Hektare dalam Proses
Fokus utama pertemuan tersebut adalah percepatan penyediaan lahan untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Berdasarkan analisis mendalam, kebutuhan lahan Huntap mencapai 12,46 hektare atau setara dengan 124.600 meter persegi. Namun, proses pengadaan tanah ini masih menghadapi sejumlah tantangan.
“Prosesnya tidak sederhana. Kami sedang berupaya menuntaskan seluruh tahapan, mulai dari penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT), pengukuran lapangan, hingga proses penilaian oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP),” jelas Bupati.

Ia mengakui bahwa saat ini masih terdapat selisih data kebutuhan di beberapa lokasi, dan proses penilaian oleh KJPP di titik-titik tertentu masih berlangsung. Selain itu, kepastian lahan dan dukungan anggaran menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
“Kendala administrasi dan penilaian ini yang sering menjadi hambatan. Untuk itu, kami menyiapkan skema alternatif melalui pengadaan bertahap. Kami juga terus mengupayakan dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat agar proses ini tidak mandek,” tambahnya.
Tiga Pilar Pemulihan: Hunian, Edukasi, dan Ekonomi
Agenda Bupati pada hari itu tidak hanya terbatas pada urusan pertanahan. Dalam kesempatan yang sama, beliau juga meresmikan pembukaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) Tahun 2026 yang digelar bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Program ini dirancang untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi bencana, mengingat posisi geografis Pidie Jaya yang rawan akan ancaman gempa dan tsunami.
“Kami tidak hanya ingin membangun rumah yang kuat, tetapi juga membangun kesiapan mental dan pengetahuan masyarakat. SLG ini penting agar warga tahu persis apa yang harus dilakukan ketika ancaman datang,” ujar Bupati.
Di sisi lain, pemulihan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terdampak bencana juga mendapat perhatian serius. Bupati melakukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan program pemulihan UMKM berjalan efektif, mengingat sektor ini adalah tulang punggung perekonomian warga Pidie Jaya.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Aman
Menutup arahannya, Bupati Sibral Malasyi menekankan bahwa ketiga agenda—Huntap, edukasi kebencanaan, dan pemulihan UMKM—harus berjalan beriringan.
“Kita ingin semua persoalan yang menjadi kendala segera mendapatkan solusi. Kepentingan utama kita adalah masyarakat terdampak. Penyediaan lahan, pembangunan Huntap, kesiapsiagaan bencana, dan pemulihan ekonomi harus berjalan bersama. Mari kita bekerja cepat dan solid agar masyarakat Pidie Jaya dapat kembali bangkit dengan lebih aman, tangguh, dan sejahtera,” pungkasnya.
Dengan langkah-langkak koordinasi yang masif ini, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya optimis bahwa proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih terarah dan memberikan dampak nyata bagi warganya.
Pewarta: CM Cek Mad

Tidak ada komentar